Kajian Kritis: Menyusun Bahasa Petunjuk

Menyusun Bahasa Petunjuk

Kata petunjuk berasal dari kata tunjuk yang mendapatkan imbuhan pe-. Kata petunjuk berarti 1. Sesuatu (tanda, isyarat) untuk menunjukkan, memberi tahu, dsb. 2. ketentuan yang memberi arah atau bimbingan bagaimana sesuatu harus dilakukan; nasihat, 3. ajaran, 4. tuntunan; ilham. (Depdiknas, 2007: 1227). Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pengertian yang kedua, yaitu: ketentuan yang memberi arah atau bimbingan bagaimana sesuatu harus dilakukan.
Bahasa petunjuk mempunyai tiga ciri, yaitu: jelas, logis, dan singkat. Sebuah petunjuk harus jelas, artinya sebuah petunjuk tidak membingungkan dan mudah diikuti. Petunjuk harus logis, maksudnya, sebuah petunjuk berkaitan dengan urutan penjelasan. Sedangkan singkat, maksudnya dalah sebuah petunjuk hanya mencantumkan hal-hal yang penting saja (Depdiknas, 2005: 40-41).
Maksud atau tujuan dari pembuatan petunjuk adalah agar para pembaca dapat mengerti dan memahami penjelasan yang diuraikan. Selain itu, merreka dapat mengikuti petunjuk tersebut dengan mudah (Yogaswara, 2006: 121).
Dalam penelitian ini, diharapkan siswa mampu menyusun bahasa petunjuk dengan jelas logis dan singkat. Di samping itu, petunjuk harus mudah dimengerti dan dilakukan.

Depdiknas (2003; 15) dalam pendekatan kontekstual, konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasana dengan orang lain.
Departemen Pendidikan Nasional (2002a:15) menjelaskan, ”Konsep kerjasama kelompok menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain.” Konsep tersebut menunjukkan bahwa kerjasama kelompok termasuk kerja berpasangan merupakan kumpulan individu yang bekerjasama dalam satu kesatuan kelompok.
Kelompok dalam konteks pembelajaran dapat diartikan sebagai kumpulan dua orang individu atau lebih yang berinteraksi secara tatap muka, dan setiap individu menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompoknya, sehingga mereka merasa memiliki, dan merasa saling ketergantungan secara positif yang digunakan untuk mencapai tujuan bersama (Sanjaya, 2006: 240).
Saadie menggunakan istilah belajar kolaboratif dan menjelaskan bahwa belajar kolaboratif bukan sekadar bekerja sama antarsiswa dalam suatu kelompok biasa, tetapi suatu kegiatan belajar dikatakan kolaboratif apabila dua orang atau lebih bekerja bersama, memecahkan masalah bersama untuk mencapai tujuan tertentu (2008: 6.3).
Lewin (1958) dalam Munir (2001:5) menjelaskan, “Kelompok adalah kumpulan individu yang mempunyai hubungan tertentu yang saling ketergantungan dalam ukuran-ukuran yang bermakna.” Sukamta (1980) dalam Munir (2001:6) menjelaskan kualifikasi sebuah kelompok adalah “Terjadinya interaksi tatap muka dengan frekuensi yang sangat tinggi dan menyebabkan terjalinnya hubungan psikologis yang nyata, seperti saling rasa memiliki, rasa solidaritas, saling keter-gantungan, adanya norma kelompok, dan terbentuknya struktur kelompok.”
Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat dinyatakan bahwa dalam kerja kelompok/berpasangan harus terjalin hubungan bekerjasama saling pengertian, menghargai, dan membantu dengan disertai komunikasi secara empati sebagai upaya untuk memaksimalkan kondisi pembelajaran. Hasil pembelajaran harus merupakan hasil sharing antar siswa dalam satu kelompok/pasangan atau antar kelompok/pasangan. Siswa yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu mengajari yang tidak tahu, yang cepat memahami mengajari yang lamban, yang mempunyai gagasan segera memberi usul, dan sebagainya.
“Kerja kelompok akan terjadi apabila setiap anggotanya saling ketergantungan, siswa saling belajar dari sesamanya baik dalam kelompok kecil atau kelompok besar,“ (Depdiknas, 2003:15). Mereka tidak ada yang merasa paling tahu atau tidak tahu. “setiap siswa harus merasa bahwa setiap siswa lain memiliki pengetahuan, pe-ngalaman, dan keterampilan yang berbeda dan perlu dipelajarinya,” (Depdiknas, 2002a:16). Bila setiap siswa merasa membutuhkan dan mau belajar dari siswa lain, maka setiap siswa dapat menjadi sumber belajar. Bila setiap siswa dapat menjadi sumber belajar, maka antar siswa akan terjalin hubungan kerjasama dan komunikasi yang harmonis.
Kondisi kerja kelompok/berpasangan dapat menumbuhkan kesadaran menjadi warga negara yang baik, mengembangkan kemampuan sosial dan semangat berkompetisi secara sehat dengan tidak melupakan semangat bekerjasama yang disertai dengan komunikasi secara empati, dan sikap solidaritas yang tinggi, Depdiknas (2002b:5). Kondisi tersebut sangat diperlukan oleh siswa baik dalam kehidupannya pada masa sekarang maupun masa yang akan datang.
Willy Ediyanto, S.Pd.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: