MESTIKAH SAYA TERUS BERBOHONG?

Oleh : Cucu Sukmara, S.Pd.

 

Setelah mengucapkan salam, kehadiran saya di kelas VIII E SMP Negeri 2 Arut Selatan pagi itu disambut dengan pandangan penuh tanya dari 35 pasang mata para siswa. Semua itu terjadi karena kedatangan saya di kelas membawa sebuah stopwatch, beberapa lembar kertas berisi teks bacaan, dan laptop yang menjadi istri kedua saya dalam menjalankan tugas. Suasana kelas menjadi tertib. Saya pikir, saya sudah berhasil memusatkan perhatian dan memotivasi mereka. Saya anggap saya sudah mendapat satu poin positif dalam PBM yang akan saya laksanakan. Sesuai kebiasaan mereka memberi salam pada guru dan berdo’a sesuai dengan agamanya masing-masing

selanjutnya

Setelah saya mengabsen dan berbasa-basi, saya bercerita sedikit tentang pengalaman saya saat berada di dalam sebuah bus yang sedang berjalan dan membaca beberapa tulisan yang ada di pinggir jalan. Saya bertanya pada mereka tentang cara membaca yang saya gunakan. Hampir seluruh siswa menjawab, “Membaca cepat, Pak”. Jawaban mereka sudah saya prediksi karena saya tahu bahwa mereka sudah mendapat pelajaran itu di kelas VII. “Benar,” kata saya. Selanjutnya saya bertanya, dalam kondisi apa mereka dituntut untuk dapat  membaca cepat. Maulana Bayu, siswa yang menempati peringkat pertama di kelas itu menjawab, “Ketika membaca teks line berita di televisi, Pak”. “Seratus untuk Bayu”, kata saya. Saya pikir poin positif kedua sudah saya peroleh karena minimal mereka sudah tahu kegunaan membaca cepat. Penjelajah saya lanjutkan. Saya ulang pertanyaan yang sama. Agak lama saya memperoleh respon dari mereka. Tak lama kemudian “Ketika karokean, Pak”, seorang siswa bernama Damiani memberikan jawaban meski malu-malu. Saya pun mengiyakan jawabannya.

Selanjutnya saya merumuskan tujuan pembelajaran di papan tulis sesuai dengan kompetensi dasar yang akan saya latihkan pada mereka yaitu menyimpulkan isi suatu teks dengan membaca cepat 250 kata per menit. Saya terperanjat ketika saya mendengar respon mereka, “Waah”, katanya. Saya lanjutkan dengan menyampaikan prosedur pembelajaran sesuai dengan RPP yang sudah saya buat. Belakangan saya menyadari sudah melakukan kekeliruan dengan tidak mempedulikan respon siswa tadi.

Saya menugaskan siswa untuk berpasangan. Dalam tahap ini saya ingin mengetahui kondisi awal kemampuan membaca cepat mereka. Saya menyampaikan aturan main dalam tahap pembelajaran ini. Ketika siswa yang satu membaca teks siswa yang lain bertugas menentukan waktu bacanya demikaian sebaliknya. Siswa memperoleh sebuah wacana dengan jumlah kata 225 yang saya bagikan sendiri dalam keadaan terbalik. Saya memberikan aba-aba agar siswa yang bertugas membaca teks mulai membaca dengan teknik membaca cepat. Saya pun menjalankan sotwatch untuk menghitung kecepatan membaca mereka.  Siswa yang telah selesai membaca mengangkat tangan, saya menyebutkan waktu baca mereka, dan siswa yang jadi pasangannya mencatat waktu baca tersebut. Siswa yang telah selesai membaca saya larang untuk membaca ulang wacana itu. Selanjutnya saya bagikan lembar soal pilihan ganda yang berisi pokok-pokok teks wacana yang dibacanya. Selama 10 menit mereka menjawab soal tersebut.

Siswa bertukar posisi. Siswa yang tadi mencatat waktu kini bertugas untuk membaca teks. Saya bagikan teks baru yang berbeda dengan wacana tadi namun dengan jumlah kata dan tingkat keterbacaan yang sama. Demikian juga dengan pertanyaan bacaannya. Langkah selanjutnya sama dengan yang dilakukan tadi.

Setelah selesai membaca saya tugaskan mereka saling bertukar hasil jawaban pertanyaan bacaan tadi untuk dikoreksi. Hal ini saya lakukan untuk memelihara objektifitas. Saya menuliskan kunci jawaban di papan tulis dan siswa melakukan pengoreksian atas pekerjaan temannya.

Saya menuliskan rumus penghitungan kecepatan efektif membaca di papan tulis. Setiap siswa menghitung kecepatan efektif membacanya masing-masing. Saya bermaksud merekam kecepatan efektif membaca mereka masing-masing dalam format yang sudah saya siapkan dalam leptop. Tapi ternyata mereka tak bisa menghitung kecepatan efektif membacanya dalam waktu yang singkat. Saya pun memberi contoh penghitungan kecepatan efektif membaca. Setelah saya menunggu sekitar 10 menit baru seluruh siswa memperoleh hasil kecepatan efektif membacanya, kecuali Mounty seorang anak perempuan yang duduk di bagian pojok belakang kelas. Saya merasa ada masalah dengan penguasaan metematis mereka terutama Mounty. Untuk kasus Mounty, saya tugaskan Damiani untuk membantunya. Ya, hitung-hitung tutor sebaya. Rekapitulasi kemampuan membaca cepat para siswa kelas VIII E akhirnya selesai. Setelah saya cermati ternyata kemampuan mereka dalam membaca cepat masih jauh dari sasaran. Rata-rata kecepatan membaca mereka 113 kpm saja. Siswa yang memiliki KEM tertinggi adalah Maulana Bayu dengan 198 kpm sementara seperti yang saya duga Mounty memiliki KEM paling rendah 57 kpm saja. Dengan demikian tak satu siswa pun yang mencapai atau bahkan melebihi target yakni 250 kpm.

Saya memberikan penjelasan singkat tentang teknik membaca cepat mulai dari melatih memperluas jangkauan mata, teknik mengelompokkan kata-kata yang dibaca sampai pada hal-hal yang harus dihindari dalam membaca cepat. Selanjutnya secara berpasangan mereka berlatih meningkatkan kecepatan membacanya

Pada bagian akhir pembelajaran saya melakukan tes dengan prosedur yang sama seperti praktik membaca cepat tadi. Suasana kelas agak lain, tegang dan kaku karena saya memberikan aturan-aturan yang tegas dengan tujuan agar mereka sunggung-sungguh dan tidak melakukan kecurangan. Singkat cerita proses sudah selesai. Untuk penghitungan angka kecepatan efektif membaca mereka, saya membuat tabel bantuan sehingga mereka tak memerlukan waktu lama untuk memperoleh kecepatan efektif membacanya. Seperti tadi saya membuat rekapitulasi ketercapaian kompetensi ini.

Hasilnya? Jangan ditanya. Hanya Maulana Bayu, Damiani, dan Magdalena yang memiliki KEM lebih dari 250 kpm sementara yang lain jauh di bawahnya, bahkan Mounty hanya memperoleh KEM 68 kpm. Meskipun demikian secara umum masing-masing dari mereka mengalami peningkatan dalam penguasaan membaca cepatnya.

Dalam pertemuan berikutnya masih dalam kompetensi dasar yang sama saya bermaksud melatih kembali kemampuan mereka dalam membaca cepat. Saya tak mengubah sedikit pun teknik pembelajaran yang digunakan pada pembelajaran sebelumnya. Hal itu didasarkan pada asumsi teknik ini sudah relevan meningkatkan kecepatan efektif membaca meskipun hasilnya tidak signifikan. Proses latihan sudah dilakukan. Pada akhir kegiatan pembelajaran, saya kembali membuat rekap kecepatan efektif membaca. Lalu apa yang terjadi? Selain Maulana Bayu, Damiani, dan Magdalena tadi hanya Gery Lucky dan Sarah saja yang berhasil memperoleh KEM lebih dari 250 kpm.

Kemudian saya bertanya,”Apa yang menjadi hambatan kalian dalam membaca cepat ini?” Jawaban mereka bervariasi. Ada yang mengatakan kecepatannya sudah memadai namun jawabannya banyak yang salah. Ada juga yang menjawab, “Saya harus hati-hati ketika membaca karena takut jawaban saya salah”. “Ya sudah kalau begitu, karena ini sudah lima jam pelajaran saya akan menentukan nilai kalian berdasarkan perolehan KEM masing-masing,” kata saya. Saya pun membuat penilaian dengan statistik sederhana dengan mengurutkan KEM siswa dan mengkonversinya menjadi nilai tanpa memperhatikan patokan 250 kpm lagi. Saya sampaikan hasilnya kepada siswa. Ada beberapa siswa yang saya haruskan mengikuti perbaikan. Saya anggap ini solusi paling baik namun hati nurani saya berkata lain. Ini adalah sebuah pembodohan bagi siswa. Saya sendiri sebagai guru merasa telah melanggar prinsip-prinsip penilaian. Saya melakukan penilaian berdasarkan acuan kelompok bukan acuan patokan. Tapi anehnya mereka para siswa yang saya bohongi malah berterima kasih, “Bapak baik, deh”. Di sisi lain saya harus mengkaji ulang kompetensi dasar yang harus saya latihkan kepada siswa.

 

Penulis :

Nama              :      Cucu Sukmara, S,Pd.

Unit kerja        :      SMPN 2 Arut Selatan

Kabupaten Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah

Alamat            :      Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat

Telepon           :      0532 2030001

HP                  :      081251660249

Email              :      cucusukmara@rocketmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: