Hati yang Risau

Oleh Rohmin

 

Saya adalah guru bahasa Indonesia di SMP Negeri – 3 Arut Selatan. Tugas ini saya emban dengan penuh rasa tanggung jawab dan suka cita, dalam rangka mencerdaskan kehidupan dan masa depan anak didik sebagi generasi  penerus bangsa. Namun, kadang saya bertanya dalam diri tentang apa yang telah saya lakukan sudah sesuai  atau belum dengan tuntutan pendidikan saat ini.baca selengkapnya

Pada hari Rabu tanggal 12 Agustus 2009, saya mengajar kelas IX C pada jam ke- 4 dan 5. Seperti biasanya segala administrasi pembelajaran telah saya siapkan agar tercapai apa yang saya inginkan. Waktu itu saya akan mengajarkan keterampilan membaca dengan Standar Kompetensi “Membaca ragam wacana tulis dengan membaca ekstensif,  membaca intensif dan membaca cepat.” Kompetensi Dasar “Menyimpulkan isi suatu teks dengan membaca cepat 250 kata per menit.”  Sebagaimana biasanya ketika saya masuk ke kelas disambut ucapan selamat pagi, setelah mengucapkan salam saya memulai kegiatan belajar mengajar. Sebagai permulaan pembelajaran saya menyampaikan tujuan pembelajaran. Kemudian saya bertanya kepada mereka,”Siapa yang dapat membaca cepat?” “Saya, Pak!”,”Saya,Pak!” jawab mereka bersahutan. Mereka sangat yakin sekali dapat melakukan kegiatan membaca cepat.

Seminggu kemudian, tepatnya pada tanggal 19 Agustus 2009, saya menagih siswa untuk melakukan kegiatan membaca cepat setelah mereka berlatih di rumah selama sepekan, saya berharap akan hasil yang maksimal dari kegiatan membaca cepat ini. Lalu saya panggil satu persatu siswa-siswi kelas IX C untuk memulai kegiatan membaca cepat.  Setelah semua siswa tampil membaca betapa risau hati saya, ternyata kemampuan kemampuan membaca cepat mereka masih rendah yaitu tidak memncapai standar kompetensi yang diharapkan. Hal ini yang saya bertanya-tanya. Apakah teks yang saya berikan terlalu banyak? Atau teksnya kurang menarik ? Atauakah latihan meraka dalam membaca masih minim?

Saya mengukur kemampuan mereka masih pada taraf kecepatan membaca belaum sampai pada pemahaman isi teks tersebut. Untuk mengungkap informasi suatu ilmu membaca sebagai kuncinya. Kadang saya ragu akan kemampuan mereka pada saat ujian. Itulah kiranya yang menjadi permasalah saya ketika mengajar  dengan Kompetensi Dasar “Menyimpulkan isi suatu teks dengan membaca cepat 250 kata per menit.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: