ALAH BISA KARENA BIASA

Oleh
Trinamita Masrudin Syahwani

Saya adalah seorang guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 7 Arut Selatan, Pangkalan Bun. Saya baru 7 bulan ini berkecimpung menjadi seorang guru dan setiap harinya harus menyampaikan materi pelajaran ke siswa-siswi di kelas. Saya harus mampu menyampaikan materi tersebut sampai mereka mengerti dan mampu menyerap apa yang saya sampaikan.

Tidak gampang memang harus menyampaikan materi kepada anak-anak yang mempunyai karakter dan kemampuan berbeda-beda. Tapi inilah tugas dan tantangan terbesar sebagai seorang guru, khususnya saya pribadi.
Tanggal 30 Juli 2009 , saya menyampaikan materi dengan standar kompetensi Memahami Wacana Lisan Melalui Kegiatan Mendengarkan Berita dan kompetensi dasarnya Menuliskan Kembali Berita yang Dibacakan ke Dalam Beberapa Kalimat di kelas VII C. Setelah saya memberi salam dan memeriksa daftar hadir mereka saya melakukan tanya jawab sebagai kegiatan pembuka tentang berita aktual yang sedang terjadi saat ini dan menanyakan siapa saja di antara mereka yang suka menonton berita di televisi.
Kemudian saya menjelaskan kepada mereka apabila kita akan menuliskan kembali sebuah berita ke dalam beberapa kalimat maka kita dapat menggunakan sebuah teknik 5W + 1H yaitu What (apa isi berita tersebut), Who (siapa yang diberitakan/subjek berita), Where (di mana peristiwa tersebut terjadi), When (kapan terjadinya), Why (mengapa berita tersebut bisa terjadi), dan How (bagaimana cara mengatasi peristiwa tersebut). “Hal ini dapat memudahkan kalian untuk menuliskan kembali berita yang sudah kalian dengarkan”, ujar saya kepada mereka.
Setelah pelajaran akan berakhir, saya bertanya kepada mereka sebagai refleksi tentang materi yang sudah saya sampaikan, “Apakah kalian sudah paham dengan penjelasan Ibu”. “Sudah”, kata mereka serentak. “Baiklah, karena kalian sudah paham tugas kalian di rumah adalah mendengarkan berita dari televisi kemudian kalian tuliskan kembali berita tersebut dengan menggunakan teknik 5W + 1H. Kerjakan di buku latihan dan pertemuan berikutnya dikumpul”, ujar saya kembali.
Tanggal 5 Agustus 2009 saya kembali mengajar di kelas VII C dan meminta mereka mengumpulkan tugas yang sudah saya berikan, yaitu tugas tentang Menuliskan Kembali Berita yang Dibacakan ke Dalam Beberapa Kalimat. Setelah saya periksa, sebagian besar anak masih melakukan kesalahan menuliskan berita yang sudah mereka dengar. Masih banyak yang belum mampu menuliskannya dengan menggunakan teknik 5W + 1H. Ada beberapa anak yang tidak mengumpulkan tugas mereka dengan alasan tertinggal, lupa mengerjakan bahkan ada yang tidak mengerjakan karena tidak bisa. Selain hal tersebut, dari tugas yang saya periksa masih banyak terdapat kesalahan penulisan terutama penggunaan huruf kapital. Mereka menulis menggunakan huruf kapital di tengah kata atau penulisan awal kalimat tidak ditulis menggunakan huruf kapital. Lalu saya menandai kesalahan tersebut menggunakan pulpen dengan tinta merah agar mereka bisa langsung mengetahui kesalahan mereka.
Kemudian, saya menyuruh mereka kembali mengerjakan tugas mereka di kelas dengan cara memperbaiki kesalahan yang sudah saya tandai. Beberapa menit kemudian saya menyuruh mereka mengumpulkan hasil kerja mereka. Setelah saya periksa kembali, sudah ada anak yang bisa mengerjakan tugasnya dengan benar, tetapi ada pula yang masih melakukan kesalahan terutama bagaimana seharusnya penggunaan huruf kapital itu. Kesalahan mereka masih saya tandai dengan pulpen dengan tinta merah. Beberapa anak yang masih sering melakukan kesalahan penulisan huruf kapital di antaranya Ardiyanto, Yogie Anugerah Susanto, Misrin, Chicha Resti Pratiwi, Zaldi Miftahul, dan Dodi Rahman.
Meskipun dengan rasa kurang puas karena masih ada beberapa anak melakukan kesalahan penulisan, akhirnya saya mengakhiri pelajaran hari itu dengan lemparan senyuman kepada mereka, dan berkata, “Anak-anak yang masih belum bisa mengurangi bahkan menghilangkan kebiasaan buruk dalam hal penulisan jangan berhenti untuk terus berlatih dan menulis sesering mungkin agar sedikit demi sedikit kebiasaan buruk itu bisa berkurang. Alah bisa karena biasa. Terima kasih anak-anak dan selamat pagi”. “Pagi” balas mereka.
Masalah yang saya hadapi adalah: (1) Bagaimana caranya mengatasi murid yang tidak mengerjakan tugas rumah dengan alasan lupa membawa tetapi sebenarnya mereka belum mengerjakan tugas tersebut? (2) Bagaimana cara mengatasi anak-anak yang bahasanya kurang variatif dalam menuliskan kembali berita yang sudah mereka dengar (meniru punya teman)? (3) Bagaimana cara mengatasi anak-anak yang masih sering melakukan kesalahan penulisan ejaan, terutama penggunaan huruf kapital?

Identifikasi Masalah
Dari studi kasus yang sudah saya buat maka dapat dibuat identifikasi masalah atau permasalahan pokok adalah “Apakah penggunaan teknik berpasangan dapat meningkatkan keterampilan siswa kelas VII C SMP Negeri 7 Arut Selatan dalam menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat dengan menggunakan ejaan yang benar, khususnya penggunaan huruf kapital?”

Rumusan Masalah
“Apakah melalui teknik berpasangan dapat meningkatkan keterampilan siswa kelas VII C SMP Negeri 7 Arut Selatan tahun pelajaran 2009/2010 dalam menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat dengan menggunakan ejaan yang benar, khususnya penggunaan huruf kapital?”

selanjutnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: