Case Study: Selalu Tergesa-Gesa

Oleh Willy Ediyanto

Pagi ini, aku harus masuk di kelas VIII C.  Sesampai di ruang guru aku membuka-buka lagi jurnal mengajar, mendalami lagi rencana pembelajaran yang duah kuopersiapkan untuk hari  itu, dan mempersiapkan perangkat presentasi mengajar. Powerpoint sudah jauh-jauh hari – sejak awal tahun ajaran – sudah kupersiapkan. Laptop kuhidupkan dan kubuka powerpoint untuk pembelajaran hari itu.  Selanjutnya

Materi yang akan kusampaikan di kelas VIII C adalah mengenai “bahasa petunjuk”. Materi ini kuperdalam menjadi petunjuk melakukan sesuatu dan petunjuk membuat sesuatu. Petunjuk melakukan sesuatu tentunya lebih luas dari petunjuk membuat sesuatu, karena membuat sesuatu pun harus dilakukan.

Rencananya, dalam pembelajaran kali ini sesuai dengan rencana pembelajaran yang kubuat, siswa dipoersilakan memilih satu di antara keduanya, kemudian siswa membuat rancangan bahasa petunjuk itu, dan yang terakhir, siswa harus mempresentasikan bahasa petunjuknya di depan kelas.

Tidak lama kemudian, bel tanda masuk kelas berbunyi. Aku segera mengambil buku dan istri keduaku , laptop, kemudian menuju ke kelas VIII C. Dari jendela tampak beberapa siswa berlarian ke sana-ke mari. Riuh oleh teriakan dan tawa. “Ah, pikirku, ini mengingatkan aktivitas kelasku dulu ketika masih seusia mereka”. Aku tersenyum melihat aktivitas mereka. Melihat kedatanganku, mereka berlarian menuju tempat duduk masing-masing.

Aku memasuki ruangan dengan senyum, duduk di kursi guru, dan meletakkan buku-buku dan segera mengeluarkan laptop. Kuhidupkan dari posisi stand by, aku tahu ini adalah cara tercepat menghidupkan komputer. Kuucapakan salam dan mereka segera menjawab salamku. Ini juga resep untuk menenangkan mereka. Biasanya mereka tidak akan diam dari percakapan mereka apabila guru belum mengucapkan salam.

Sebelum memulai pelajaran, aku meminta tiga orang siswa untuk mengambil proyektor,  layar, dan kabel-kabel untuk presentasiku. Yah, ini kegiatan yang melelahkan dan memerlukan waktu yang banyak. Tapi mau apa lagi karena di sekolahku belum ada ruang multimedia seperti di sekolah-sekolah yang sudah maju. Ketika beberapa siswa mengambil peralatan, aku membuka pelajaran dengana menjelaskan tujuan pembelajaran kali itu. Kebetulan pertemuan yang lalu bisa dikatakan sudah tuntas sehingga tidak ada pekerjaan rumah yang perlu dibahas lagi. Peralatan datang dan aku menjelaskan sambil memperisapkan peralatan presentasi.

Peralatan siap, dan aku masih melanjutkan dengan tanya jawab. pada sesi presentasi, aku asyik dengan presentasiku dan kulihat seluruh siswa asyik memperhatikan layar di depan mereka. Selesai presentasi, mereka mengatakan mengerti ketika kutanyakan apa yang baru saja kutampilkan. Presentasi terakhir, terpampang tugas yang harus mereka kerjakan. Intinya membuat bahasa petunjuk. Kujelaskan panjang lebar lagi mengenai tugas yang harus dikerjakan oleh mereka. Saat kukatakan bahwa mereka harus mengerjakan tugas ini, tampaklah wajah menderita anak-anak muda itu. Aku kasihan melihat mereka. Tak ada lagi yang bertanya, kemudian mereka asyik membaca buku pelajaran pada halaman yang sudah kutunjukkan. Ada juga yang kemudian mulai menulis di bukunya.

Di akhir sesi ini, setelah sekitar 20 menit, kukatakan bahwa waktu sudah habis. Terdengar grutu dari mulut-mulut remaja itu. Ada yang berkata, “Belum, Pak”. Itu hal yang biasa, pikirku. “Sampai di mana pun pekerjaan kalian, hentikan, karena waktu sudah habis”. lalu kutunjuk seorang siswa untuk mempresentasikan pekerjaannya. Dia berkata, “Belum, Pak”. Kuulangi lagi pernyataanku, “Sampai di mana pun pekerjaan kamu, laporkan”. Dengan setengah hati remaja ini maju untuk mempresentasikannya. “Lumayan bagus, pikirku, meskipun belum selesai”. Remaja kedua mempresentasikan sambil lalu. Ia membaca pekerjaannya secepat kereta api agrobomo. Begitu juga siswa ketiga dan keempat.

Gagal, pikirku, karena mereka hanya membacakan secepat mungkin bahasa petunjuknya. Kemudian aku tampil lagi dan menjadi model secara lengkap cara menyajikan bahasa petunjuk dengan peragaan membuat pesawat terbang dari kertas. Seluruh siswa memperhatikan apa yang saya lakukan. Kemudian, saya mengubah strategi dengan memberikan tugas berkelompok tiga atau empat orang. Yang kutekankan, di antara mereka ada yang memberikan pengantar, ada yang memberikan bahas a petunjuk dan ada yang menampilkan peragaannya. Selesai, mereka bekerja berkelompok. saat asyik mengamati kerja kelompok yang boleh diselesaikan di luar kelas, kudengar bel pergantian pelajaran berbunyi. Kupanggil mereka untuk masuk kelas dan kuahiri dengan tugas agar mereka mempersiapkan presentasi mereka dengan lebih baik  untuk ditampilkan pada pertemuan berikutnya.

Kumai, 11 November 2009.

Satu Tanggapan to “Case Study: Selalu Tergesa-Gesa”

  1. Capa yach Says:

    Perlu kesabaran ketika mengajar. Bagus, Pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: